Latest Entries »

aku, pendusta nikmat kah?

Mendustakan nikmat. seperti apa contohnya?

Merenung-renung..

Pada surat ke lima puluh lima dalam Al Qur’an itu, Allah sebut pertanyaannya berulang-ulang, tiga puluh satu kali. “fabiayyi aalaa-I rabbikumaa tukadzdzibaan?”, “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”, yang berarti pertanyaan itu adalah sesuatu yang teramat serius untuk kita perhatikan, untuk kita renungi, untuk kita jawab.

Selama ini, entah, seperti merasa aman dari ‘tuduhan’ mendustakan nikmat itu. Apa sebab? Karena aku sholat, karena aku mengucap hamdalah tiap mendapat nikmat. yang demikian sudah bisa disebut tak mendusta nikmat?

Mencoba flashback, dan menemukan banyak potongan puzzle hidup dimana ada nikmat Allah disana yang tak kumaksimalkan sebagaimana mestinya.

  1. Dibeliin motor, tapi masih males2an untuk nganter anggota keluarga yang lagi butuh dianter. Atau males2an untuk dateng ontime acara2 undangan. Atau merasa berat untuk berangkat saat ada dua agenda yang cukup berjauhan tempat..
  2. Beberapa minggu lalu, seharusnya presentasi suatu mata kuliah wajib hari itu, tapi persiapan minim dan ternyata pak dosen tak masuk. Otomatis presentasi diundur pekan depannya, dan waktu sepekan itu tak kugunakan untuk mempersiapkan presentasi terbaik..
  3. Cuma butuh lima ratus perak setiap harinya untuk dapet gratis sms ke semua operator. Jatahnya 10.000 sms. Tapi masih jarang sekali sms taushiyahku mampir di inbox teman2 sejawat. Yang ada mungkin saja hanya jarkom2 acara, atau permintaan tolong. (*merasa kalo sms temen jauh cuma kalo butuh bantuan aja). Nyambung silaturrahim walopun via sms sama temen atau senior yang udah jarang ketemu? J.a.r.a.n.g banget.
  4. Udah diberi oleh Allah banyak ilmu tentang Al Qur’an, tafsirnyakah, keutamaan menghafalnyakah, tapi masih aja angot2an menghafal..
  5. udah Allah kasih langsung sesuatu yang bernama hikmah di setiap hari yang aku jalani, sebagai pelajaran hidup yang tak boleh terabai. Tapi nyatanya aku masih mengulangi kesalahan yang sama..
  6. dan udah Allah kasih waktu 24 jam dalam sehari, setiap kebutuhan sudah ada jatah waktunya sendiri, namun keluangan waktu itu tak aku pergunakan dengan baik, walau untuk mendokumentasikan semua hikmah dari Allah itu melalui tulisan (baca: m.e.n.u.l.i.s!) yang jika kurenungi dan kupalikasikan benar-benar, maka pahalanya lebih tinggi daripada tahajjud setahun.

Dan maasih banyak lagi.

Jika yang demikian ternyata adalah sesuatu yang mendustakan nikmat,

Maka akukah si pendusta nikmat itu?

Allahummaghfirlii.

Dalam rangka meluruskan benang yang semakin kusut.

lupa doa shalat ghaib

Senin lalu, paginya saya mendapat kabar duka dari seorang teman, Upi kimia 2010. Ibunya meninggal dunia setelah sekian hari dirawat di ICU karena jatuh di kamar mandi. Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun..

Siangnya setelah shalat zhuhur di musholla kampus, sebut saja Musholla ‘Izzatul Islam, sang imam mengajak semua jamaah shalatnya untuk mendirikan shalat ghaib untuk almarhum ibunda Upi. Dan saya tercekat. Sudah lama sekali saya tak mendirikan shalat jenazah, atau shalat ghaib. Bahkan saya lupa kapan terakhir saya menshalati mayit. Dan, bisa ditebak, saya hampir lupa seluruh doa shalat ghaib untuk takbir ketiga dan keempat!

Astaghfirullah. Sempat agak ragu apakah akan ikut shalat atau tidak, mengingat hal paling krusial tersebut saya lupakan. Namun akhirnya saya ikut shalat ghaib juga, dan sepertinya hampir seluruh jamaah shalat zhuhur juga ikut melakukan shalat ghaib.

Saya tidak tahu apakah benar-benar diantara pendiri shalat ghaib itu, hanya saya saja yang tak hafal doa-doanya. Yang jelas hari itu jadi pelajaran sangat berharga buat saya, bahwa tak boleh sama sekali melupakan doa shalat ghaib. Siapa saja bisa dipanggil Allah kapan saja, maka saya harus bersiap ketika ada kabar duka dari orang-orang terdekat saya. Bersiap dengan doa-doa terbaik yang dipanjatkan terakhir kali di hadapan sang mayit.

 

“kullu nafsin dzaa’iqotul mauut…” (Al Qur’anul Karim)

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Pada setapak kehidupan ketika kau bersedih
Senandung cerita lirih hati yang tak bertepi
Pada dimensi sajak hari yang terlalu dingin
Ketika kesepian menjawab renta malam tanpa angin
Semilir hidup dan sebuah kalimat mungkin
Pada harapan ketika jiwa harus tetap berdiri
Membelai hidup yang tak memerlukan terima kasih
Maka, maafkanlah…
Hadapi hidup ini apa adanya
Hidupi hidup dengan iman dan kesabaran
Enyahkan kejenuhan hidupmu buanglah rasa cemas
Bersyukurlah seluas langit dan bumi
Tinggalkan kekosongan harimu dalam rencana esok pada kehidupan di hari yang lain
Tanyakan pada dirimu akan kesantunan yang selalu terabaikan

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Peliharalah, peliharalah senyummu agar tak menjadi palsu
Menikmati kesedihan dan menjadi tangguh
Menakhlukkan pedih menjadi peluru
Bernafas seperti batu, menjadi singa dalam kejayaan matahari
Menjaga malam bersama tamaknya ibadah para rahib rabbani
Mensyukuri semesta barsama para penjaga purnama
Menikahkan jiwa bersama dakwah
Mencumbu cinta didalam jihad
Bekali perjalanan bersama Allah dan RasulNya
Membalut hati tanpa retorika
Siapkah kau jika hari menjadi pedang dan kesempatan kedua tak lagi memilki sarang
Bertarung manjaga cinta dalam kesepian
Membunuh waktu dalam harapan
Karena lahir adalah untuk melihat kenyataan

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Pada lautan airmata kita belajar
Pada kepedihan yang mendidik kita tuk tak gentar
Bertahan menjadi akar, bersemi pada keteguhan yang mekar
Celakalah para humazah dan lumazah
Neraka serapah jelantah
Kebutuhan jiwa di alam barzakh
Menebar jejak misteri syafaat dan kesolehan
Pada saat setiap telusuri sahara jiwa dan keabadian
Didekat jasad syahid hamzah
Temukanlah ibroh bukit uhud dari profil mini musoiram
Begitulah sejarah menuntut kita tuk bangkit kembali
Meniti tangga hari walau berulang terjatuh bangkit dan kembali terjatuh
Berdiri dan optimislah!
Karena kita adalah pewaris Rasulullah diajarkan bersabar diantara lapisan batu penduduk Thaif

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

 

this is actually a song lyric, sang by Thufail Alghifari, a rapper-munsyid.

i won’t be bored to read this for many time. what an inspiring one!

Mampir-Mampir di Taman Hati

Gara-gara dikasih link ke blognya Faiz oleh kak Ifah,
Pagi ini jadi menelusur halaman-halaman maya di ‘Taman Hati Abdurahman Faiz’ begitu sampai rumah dari mabit di Masjid Attaqwa Pasming semalam.

Dan, saya jadi bawa pulang banyaaak sekali oleh-oleh dari sana.
Faiz yang masih sd itu, memberi banyak pencerahan untuk hati,
Faiz yang masih sd itu, begitu polos menuliskan tiap detil kejadian hidup yang dialaminya (baca deh yang judulnya ‘Sorry Dorry Strawberry…’!),
Faiz yang masih sd itu, begitu penuh cinta untuk sesamanya, juga sangat bersemangat menyebarkan kebaikan dan cinta itu kepada orang-orang di sekelilingnya,
dan Faiz yang masih sd itu, benar-benar menulis dari hatinya…
wajahnya sepolos fitrah, hatinya sejernih embun, tulisannya mengangkasa…

dan dari tulisan-tulisannya, saya jadi tahu, betapa kedua orangtuanya sukses menanamkan benih-benih kecintaan untuk sesama, mengajarkan kelembutan hati yang tiada terkira, dan menjadi teladan yang sempurna bagi buah hatinya. Banyak tulisan Faiz yang bercerita tentang ayah-bundanya. Tentang kesyukurannya yang tiada habis karena dikaruniai orangtua yang baik, tentang kebanggaanya karena keduanya selalu menebar kebaikan di mana saja pada siapa saja…

buat Faiz, terima kasih karena telah mengajarkan arti kehidupan secara sederhana dan begitu manis buat kakak yang satu ini. Jujur, merasa kalah telak dengan adik kecil yang begitu shalih dan dekat pada Allah melalui kedekatannya dengan ‘teman akrab’-nya yang kekurangan. Salah satu tulisannya yang sedang membahas jalan-jalan,

Baru ketika pulang, di dalam mobil aku merasakan sesuatu yang lain. Tiba-tiba aku kok jadi sedih ya. Aku memikirkan mereka yang bekerja menjadi setan-setanan itu. Kasihan sekali. Mereka harus meringkuk di dalam terali, pakai pakaian dan rias wajah yang seram. Mereka harus terus menakut-nakuti pengunjung agar “rumah setan” itu terlihat seru. Mereka bekerja dari mulai persiapan di pagi hari, sampai lewat pukul sepuluh malam. Berapa ya honornya sehari? Dan kalau PRJ ini sudah selesai, apakah “setan-setan” yang baik hati itu masih bisa bekerja? Di mana?
Aku masih ingat. Saat keluar dari “rumah setan”, ada anak balita, kurus tidak pakai sandal. Dia melihat kami. Lalu dia berlari ke arah seorang perempuan.
“Buu, mana Bapak?” cadel.
“Bapak lo di sono jadi setan. Belum selesai!”
Di dalam mobil, di sepanjang jalan pulang aku terdiam. Ada sesuatu yang bergayut di hatiku. Berat sekali.
Ah, keringat ayahmu yang mengalir hari ini, adik kecil…,
apakah cukup untuk membeli susu esok pagi?

Begitulah, hingga pagi-pagi begini, sudah banyak catatan hati, nasehat bagi diri sendiri yang batinnya sudah terasa tumpul sekali dalam melihat kehidupan lain di luar sana. Anak-anak jalanan yang mengemis, teman sekolah yang kekurangan, kerabat jauh yang sedang sakit, hingga pemimpin yang harusnya bisa lebih mengayomi rakyatnya..

Ah, pagi ini saya dibuat tersadar oleh anak yang masih berseragam merah-putih!

Sampaikan salamku…

Kalau suatu saat kau bepergian

ke tempat di mana hijau tetumbuhan terhampar,

angin sejuk berhembus,

dan bintang gemintang tertabur,

maka sampaikan selalu salamku pada mereka

salam penghormatan, berkah, shalawat, dan seluruh kebaikan

untuk Rabb semesta

yang telah begitu sempurna mencipta

serta untuk Sang Guru dari para guru

yang telah begitu indah mengajarkan

betapa berharganya kehidupan…

2 Mei 2010, 11.50

Hidup ini, bila tanpa ‘terjatuh’, takkan terasa asyiknya.

Hidup sejatinya seperti gunung. Dan kehidupan adalah proses pendakian seorang anak manusia di gunung tersebut. Makin jauh mendaki ke atas, makin menanjak terjal jalannya, makin sulit track-nya. Dan seringkali dalam pendakian itu, kita terpeleset menginjak bebatuan licin, atau ranting yang patah, lalu terjatuh. Aww! Pasti sakit sekali rasanya. Tetapi begitulah, kita segera bangkit kembali, kemudian terus menanjak dan menanjak.

Dari jatuhnya kita yang pertama, kita belajar sesuatu; bahwa kita harus lebih berhati-hati pada bebatuan yang ditumbuhi lumut. Mata kita harus lebih awas. Kaki kita harus memijak kuat. Agar di tapak-tapak kaki selanjutnya, langkah kita bisa lebih lancar lagi.

Berapa kali, kira-kira, kita mengalami kegagalan dalam hidup? Saya sendiri, saking banyaknya, tak bisa lagi menghitungi ‘kejatuhan-kejatuhan’ itu. Sudah terlalu banyak. Dalam setiap aspek kehidupan, selalu ada fase gagalnya. Dan itu menyakitkan. Sungguh sangat-sangat menyakitkan :-( . Rasanya ingin ditelan bumi saja, atau kata orang2 yang sering berinteraksi dengan komputer, kalo bisa, rasanya mau klik ‘undo’ aja.

Tapi tahukah, dua potensi anak manusia ketika ia tengah dihadapkan dengan kegagalan: ia kecewa, namun setelah itu ia berputus asa, atau ia kecewa, tetapi kemudian ia bangkit kembali dari keterjatuhannya.

Dan saya yang sudah teramat sering terjatuh ini, tentu lebih memilih yang kedua. Sebab kita semua pasti tahu, kecewa (lalu berputus asa) berlama-lama hanya akan membuang waktu, mengikis kesempatan-kesempatan berbuat baik yang sebenarnya lebih besar. Kita tahu, bahwa masih sangat panjang track yang harus kita lalui agar sampai di puncak gunung ini. Kita pun tahu, bahwa di sana, di tempat yang lebih tinggi dari tempat kita terjatuh sekarang, pasti akan terlihat pemandangan yang lebih indah. Oleh karena itu, tak kita hiraukan rasa sakit tadi, kemudian kita berkata ringan sambil tersenyum, “tidak apa-apa. Mari kita lanjutkan perjalanan!”

Dan tentu kita tahu, akan kita temui lagi nantinya halang-rintang yang mungkin menghadang perjalanan. Akan kita rasakan angin yang semakin kencang menerpa tubuh ringkih kita, yang membuat kita sulit bernapas. Tetapi lihat, kita telah bersiap untuk itu semua. Berbekal evaluasi, kita makin siap menanjak. Kaki kita makin kuat menapak. Mata kita makin awas. Tekad kita makin kuat. Dan kita bersama berkata, “Mari lanjutkan perjalanan!”

Untuk semua pendaki gunung kehidupan: Selamat melanjutkan perjalanan!

Aku Ingin Mendaki

Aku ingin mendaki

Tak mengapa menanjak

Biarkan hutan lebat, dingin, licin kulewati

Biarkan hujan membasahi

Aku ingin mendaki

Agar menyaksikan kesempurnaan hidup dan keindahan kebenaran

Aku ingin mendaki untuk mengekang keangkuhan diri

Sebab dengan menyaksikan kedaulatan pencipta, aku akan menemukan kerapuhan dan keroposnya seorang diri ini

Aku ingin mendaki

Tak mengapa letih dan badai berbaur untuk memadamkan semangat

Aku ingin mendaki

Agar memahami bahwa setiap helai daun yang jatuh,

setangkai edelweis di 3000 dpl, dan seorang hamba di rimba hutan

tak akan pernah lepas dari awas dan cinta-Mu

meski ada pula abdiMu yang mencoba melampaui

Aku ingin mendaki

Agar mengenal betapa sukarnya

berjalan di tengah hutan meski dengan kompas

sehingga peluang tersesat dapat ditemui

dan semakin besar peluang itu

jika badai atau kabut datangmenghalangi pandang

sehingga pecinta alam yang berkali-kali diklat-pun dapat tersesat

dan pada akhirnya tim SAR akan memahaminya sebagai kelalaian

kemudian memaafkan

Aku ingin mendaki untuk menempa diri

Untuk mengenal kehidupan lain, menerima jiwa lain, dan yang pasti memahami orang lain

Sehingga pada akhirnya aku memiliki keberanian untuk memaafkan

Dan mampu berkata seperti orang Alim

“Dia benar, saya keliru”

written by Bhakti Eko Nugroho

Rutinitas pagi

“Assalamu’alaikum!” pekik sang kakak dan sang adik kompak pada penghuni rumah. Penghuni rumah menyahut salam. Keduanya menuju pagar rumah, membukanya, kemudian keluar.

Pagi itu tepat jam tujuh. Embun sudah pergi dari dedaunan. Matahari kian meninggi saja di horizon sebelah timur sana. Langit kian terang ditingkahi arakan awan rendah kumulus.

“Balapan lari ya, sampe ujung sana! Siap??” sang kakak bersiap mengambil kuda-kuda.

“Ayo!” si adik yang berseragam merah-putih (masih kelas satu sd) tak mau kalah bersiap.

“satu-dua-tiigaa!” keduanya melesat. Berlarian. Empat detik berlalu, dan si adik mempimpin di posisi depan. Sang kakak yang terlihat kerepotan membawa sebuah tas jinjing besar susah-payah membalap si adik laki-lakinya, berusaha mengambil langkah lebih besar dengan menarik ke atas roknya sebatas betis. Aman, karena selalu dobel celana longgar, pikirnya.

Usahanya tak begitu membuahkan hasil. Si adik masih memimpin di depan. Malah sang kakak makin jauh tertinggal di belakang.

“curang, curang!” teriak sang kakak kepada si adik. Padahal apanya yang curang??

Tubuh sang kakak sudah jauh lebih tinggi. Tentu, karena rentang usia mereka 12 tahun. Tapi lihat saja nanti, beberapa tahun lagi tinggi badan si adik akan menyusul cepat. Dan mungkin si kakak akan kembali jadi anggota keluarga paling pendek di rumah.

Keduanya tertawa-tawa. Sambil ngos-ngosan, tentu. Dan mereka sampai di gerbang jalan. Perlombaan singkat pagi itu selesai, dengan si adik yang jadi pemenang. Keluar gerbang jalan, kemudian menyetop angkot yang cepat datang. Seperti biasa, kakak-beradik itu duduk di samping pak kusir, alias pak supir. Agak sempit memang, tapi toh kursi berkapasitas satu orang itu muat saja untuk mereka berdua.

“udah baca doa blom?” Tanya sang kakak.

“em.. apa ya doanya? Emm.. lupa..”

“Halah, kebiasaan. Udah mau setahun sd kok masih lupa-lupa terus?”

“Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaahii…” sang kakak membimbing,

“laa hawla walaa quwwata illaa billaah…” sambung si adik lancar.

Angkot itu melaju cepat, meninggalkan asap tipis dari knalpot belakang. Mengantar penumpangnya ke tujuan masing-masing. Sang kakak ke kampus, si adik ke sekolah. Angin berhembus pelan, bersahabat. Seolah mengantar doa-doa dari segenap penjuru, dari makhluk nampak maupun tak nampak: “mudahkan jalan keduanya menuju surga…”

***

Just.refreshing

ketika teman dan adik2 tengah bergulat dengan SIMAK UI

Ok, Back to the topic. Ya, setelah kurang lebih tiga jam nge-track, akhirnya sampai juga di tujuan kami hari itu. Curug Cikudapaeh! Air terjunnya, masyaAllah, deras! Dan daerah curug itu cukup gelap karena tertutup tembok-tembok batu alami, menghadirkan nuansa mencekam khas pegunungan ditambah langit yang semakin mendung. Makan siang, jeprat-jepret. Saya yang sudah dapat lapak pewe (duw, gahol bgt c saya) di atas batu di pinggir sungai seolah tak mau pindah. Makan siang di atas batu itu, dan hanya memerhatikan teman-teman yang tak henti jepret sana-sini. And try to recalling the verses. Not much, actually. Sebab itu sampai sekarang saya ingin kembali lagi ke curug Cikudapaeh, atau curug apapun itu. Dengan durasi yang jauh lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya.

Track yang jauh dan penuh halang rintang pasti cukup jadi penghalang, tapi memang itulah ritme perjalanan a la pegunungan. Sesulit apapun itu, tetapi dari awal kita tahu, bahwa di akhir perjalanan kita ada air terjun dan sungai nun indah menunggu. Maka segala kenyataan bahwa track menuju ke arah curug itu terjal, bahwa di perjalanan pasti turun hujan, tanahnya licin, semuanya kita lewati juga. Kita tembus juga. Dan saksikan wajah-wajah yang tak bisa menyembunyikan keceriaannya sesampai di curug tujuan. Duhai, ini baru air terjun di bumi. Keindahannya begitu memikat hati. Apalagi… surga?

Saatnya pulang ke basecamp. Peserta dan panitia berfoto di pinggir sungai Cikudapaeh, dengan panji Canopy warna putih-hijau kebanggaan. Di perjalanan pulang, saya menemukan Begonia bracteata, sebuah spesies yang selama perjalanan hari kemarin tidak saya temukan. Ini berarti spesies tersebut jarang ada.

Di perjalanan pulang ke basecamp, hujan turun deras. Track makin licin. Udara makin dingin. Kami makin mandi lumpur. Tetapi semua itu sungguh menyenangkan, Rabbi… dan menelusuri kebun teh menjadi pelengkap kebahagiaan sore itu.

Beside Orion

Yap, malam terakhir menjadi malam ter-bertabur bintang dibanding dua malam sebelumnya. Di langit sana, there are some constellations beside Orion. Takjub. Karena selama ini, rasi bintang yang paling sering terlihat adalah rasi bintang Orion, dan memang hanya rasi Orion yang bisa saya identifikasi. Tetapi malam itu ada banyak-banyak rasi bintang lain yang tak saya kenal.

“bintang di Halimun masih kalah banyak sama yang di Bodogol, apalagi di Ujung Genteng. Wiih, kalo di Ujung Genteng sampe kelihatan Milky Way-nya! Keren banget deh!”, ujar seorang senior yang turut memandangi bintang malam itu.

Ah, kak. Kau hanya akan membuatku iri. Dan membuatku makin menguatkan tekad untuk benar-benar mampir ke sana suatu saat.

The Unfulfilled

Etlingera elatior. Tumbuhan ini yang saya cari selama perjalanan saya di sana, tetapi nihil. Mungkin daunnya ada, tapi saya mencari bunganya. Bunga yang bentuknya mirip bunga mawar itu, yang warnanya merah muda itu, yang jadi tumbuhan favorit saya kala itu… tak berhasil saya temukan. Di perjalanan pulang, di atas truk yang berguncang-guncang, seorang senior tiba-tiba menunjuk ke arah pinggir hutan yang sedang kami lalui, “itu Etlingera elatior, tepus-tepusan. Sama kayak Etlingera coccinea, tapi bunganya kayak mawar…”, ia memberi tahu seorang teman di sampingnya. Hah, mana? Mana? Sayangnya truk terlalu cepat berlalu, tak memberi kesempatan bagi saya untuk melihatnya secara langsung. Beberapa kali mata sang senior melihat E. elatior, tapi saya selalu telat, selalu sudah terlewat. Yah, saya benar-benar berharap suatu saat bisa melihat secara langsung si tepus sekembalinya saya ke Gunung Halimun!

The ‘azzam

Entah, apakah banyaknya hal yang harus dilakukan yang menjadikan saya merasa tafakkur kali ini berlangsung kurang total atau sayanya yang kurang bisa memaksimalkan waktu, yang jelas di akhir-akhir masa di Halimun saya baru memperbanyak ‘meciptakan kenangan‘ di sana. Sedikit menyesal, namun ini yang memompa semangat untuk bisa kembali ke sana, dengan terlebih dulu mempersiapkan diri untuk tafakkur yang lebih dalam. Setahun ini… harus bersiap untuk menjadi PJ konsumsi (*lho?), dan memperbanyak hafalan lagi. Hafalan tumbuhan, dan tentu hafalan Quran.

Semoga cinta tersampaikan melalui tetes-tetes embun dan lalu lalang kabut. Di rerimbunan pohon. Di kesejukan udara. Di keheningan jiwa dan malam apabila ia telah gelap gulita. Membersamai ayat-ayat qauliyah dan kauniyahNya…

Akhir kata, sampai jumpa di tahun berikutnya. Halimun, we’re gonna mist you!

*foto2 spesies Halimun menyusul ,

insyaAllah.

Semoga cinta tersampaikan melalui tetes-tetes embun dan lalu lalang kabut. Di rerimbunan pohon. Di kesejukan udara. Di keheningan jiwa dan malam apabila ia telah gelap gulita.

Sebuah catatan perjalanan, oleh-oleh memori Pelantikan Canopy (Pelican) selama empat hari tiga malam di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, 25-28 Januari 2010. Perjalanan dimulai sekitar jam delapan pagi dari MIPA dengan bus sewaan, untuk kemudian transit di Parung Kuda, daerah Sukabumi. Dari tempat transit, kami melanjutkan perjalanan dengan truk karena jalan menuju basecamp yang terletak di Citalahab teramat berliku dan berbatu. And here are the details. Enjoy!

Mystic mist

Setelah kurang lebih empat jam diguncang dan ‘ditampar-tampar’ dedaunan di atas truk yang mengangkut kami, tibalah kami di kawasan perkebunan teh, di mana dari sana terlihat kehijauan sejauh mata memandang: rapinya kebun teh, dan juga rapatnya pohon. Dan tentu, kabut tebal yang mengucap selamat datang, seolah mengatakan, “kalian sedang di Halimun dan kamilah kabut-kabut itu. Berhati-hatilah terhadap kami karena kami terlihat menenangkan namun mengancam.”

Ya, saya baru tahu bahwa selama ini Halimun memang terkenal dengan kabutnya (karena sayapun baru tau bahwa ternyata kata halimun berarti kabut!). Dan memang benar. Selama empat hari di Halimun, sajian utama pemandangannya adalah kabut. Makanya walau di daerah pegunungan, kami jarang menemukan pemandangan berupa langit biru cerah seperti daerah-daerah pegunungan lainnya. Because mist is everywhere.

Dapur.. dapur!

Dari sekian banyak hal yang saya lakukan di sana, rasanya kegiatan di dapur menjadi salah satu kegiatan yang cukup punya tempat lebih di memori hati. Eza masak? Ya!

Berawal dari kesadaran bahwa armada sie. konsumsi hanya sedikit sedangkan panitia lainnya sibuk dengan urusan masing-masing, maka jadilah pagi itu sebagai permulaan saya sebagai sie. medis merangkap sie. konsumsi. Goreng tempe (walau sampe dikira tempe bacem saking hitamnya), goreng pisang penyet (walau matengnya ga merata), ngupas-ngupas bawang, dll deh. Yah, walaupun hanya mengerjakan yang ringan-ringan, tapi saya merasa telah berbuat sesuatu untuk konsumsi di Halimun kemarin. Lagipula, peka terhadap rasa lapar adalah salah satu dari empat sifat yang dicintai surga.

Berbeda dengan Pelican tahum sebelumnya di mana banyak ‘bapak-bapak panitia’ turut terjun di dapur dengan menjadi voluntir bagi sie. konsumsi (ikhwan-ikhwan biologi 2007 jago masak euy!), tahun ini hanya tiga-empat orang bapak panitia yang mau bersentuhan dengan pisau, sayur-sayuran, dkk. Dan cuma satu orang ikhwan panitia seangkatan saya yang tangannya begitu lihai memotong-motong wortel, bawang, dkk. Melihatnya, saya cuma bisa berkomentar dalam hati: glek! Saya kalah telak!

Mentor magabut

Aha, ini yang agak saya sesalkan. Proses transfer ilmu di acara Pelican kali ini ternyata tidak berjalan lancar. Saya dan lima orang lainnya ditunjuk untuk menjadi mentor ngalap (baca: pengamatan lapangan) untuk famili Orchidaceae dan Begoniaceae. Pengamatan lapangan dilakukan dengan menelusuri loop trail menuju Stasiun Penelitian Cikaniki, dan mengidentifikasi tumbuhan yang dapat kami temui di sana, dengan kedua famili di atas sebagai fokus utama kelompok. Dan peserta kelompok 1 yang jadi mentee kami hanya berjumlah lima orang. Jadi bisa dibayangkan, mentor ngalap lebih banyak daripada peserta ngalapnya. Keroyokan. Dan tiga orang mentor senior yang pengetahuan tentang anggreknya jauh lebih ter-upgrade daripada saya membuat saya merasa jadi mentor magabut. Jadilah saya hanya menjelaskan sedikit tentang Begoniaceae, beserta sedikit info ciri khas dari famili-famili penghuni Halimun lainnya.

Di tengah perjalanan, dua ekor Owa Jawa (Hylobates moloch, also known as Javan Silvery Gibbon) yang sedang lompat dari pohon ke pohon menarik perhatian kami. Penglihatan kami terbantu dengan binokuler yang dibawa salah seorang mentor sehingga bisa melihat aktivitas Owa Jawa itu lebih jelas.

Sampai di Stasiun Penelitian Cikaniki, kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Curug Macan, sekitar 400 meter lagi. Tak terasa, 400 meter ditempuh dengan cepatnya, dan lelah hari itu terbayarkan dengan pemandangan air terjun, dan tentu acara makan siang yang dinanti-nanti. Oh ya, tak perlu khawatir, nama Curug Macan bukan berarti karena banyak macan. Sama sekali tak ada macan di sana. Setidaknya ketika kami singgah sore itu.

Cikudapaeh: What a Track!

Kata teman saya, paeh artinya mati. Jadi Cikudapaeh artinya sungai kuda mati. Seseram namanya, track menuju curug Cikudapaeh memang dahsyat, jauh lebih dahsyat daripada track sebelumnya yang cuma loop trail dari perkemahan Citalahab ke Pusat Penelitian Cikaniki, selain jaraknya yang lebih jauh, sekitar lima kilometer. Di perjalanan di hari ketiga kami, terpeleset (bahasanya: jackpot), merosot, merayap, mandi lumpur menjadi teman akrab seperjalanan. Ohya, kena pacet juga (tahu pacet kan ya? Itu lho, temennya lintah). Orang-orang yang biasa naik gunung pasti sudah mahfum, bahwa nge-track di gunung pasti rentan ‘ditempeli’ pacet. Yang terlihat sih biasanya di sekitar pergelangan kaki hingga betis. Tapi siapa tahu pacetnya berhasil menghisap darah kita di bagian lain tubuh kita. Karena banyak cerita juga bahwa ‘ketempelan’ pacet terkadang baru bisa kita sadari ketika sudah sampai di basecamp lagi, tepatnya di kamar mandi. Tepat sekali. Si pacet berhasil masuk ke dalam pakaian kita dan tahu-tahu pakaian kita sudah berdarah-darah, karena ternyata ia menghisap darah di bagian perut, punggung, atau bagian lainnya, dengan ukuran si pacet yang biasanya sudah lebih besar karena kekenyangan menghisap darah.

to be continued…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.