Semoga cinta tersampaikan melalui tetes-tetes embun dan lalu lalang kabut. Di rerimbunan pohon. Di kesejukan udara. Di keheningan jiwa dan malam apabila ia telah gelap gulita.
Sebuah catatan perjalanan, oleh-oleh memori Pelantikan Canopy (Pelican) selama empat hari tiga malam di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, 25-28 Januari 2010. Perjalanan dimulai sekitar jam delapan pagi dari MIPA dengan bus sewaan, untuk kemudian transit di Parung Kuda, daerah Sukabumi. Dari tempat transit, kami melanjutkan perjalanan dengan truk karena jalan menuju basecamp yang terletak di Citalahab teramat berliku dan berbatu. And here are the details. Enjoy!
Mystic mist
Setelah kurang lebih empat jam diguncang dan ‘ditampar-tampar’ dedaunan di atas truk yang mengangkut kami, tibalah kami di kawasan perkebunan teh, di mana dari sana terlihat kehijauan sejauh mata memandang: rapinya kebun teh, dan juga rapatnya pohon. Dan tentu, kabut tebal yang mengucap selamat datang, seolah mengatakan, “kalian sedang di Halimun dan kamilah kabut-kabut itu. Berhati-hatilah terhadap kami karena kami terlihat menenangkan namun mengancam.”
Ya, saya baru tahu bahwa selama ini Halimun memang terkenal dengan kabutnya (karena sayapun baru tau bahwa ternyata kata halimun berarti kabut!). Dan memang benar. Selama empat hari di Halimun, sajian utama pemandangannya adalah kabut. Makanya walau di daerah pegunungan, kami jarang menemukan pemandangan berupa langit biru cerah seperti daerah-daerah pegunungan lainnya. Because mist is everywhere.
Dapur.. dapur!
Dari sekian banyak hal yang saya lakukan di sana, rasanya kegiatan di dapur menjadi salah satu kegiatan yang cukup punya tempat lebih di memori hati. Eza masak? Ya!
Berawal dari kesadaran bahwa armada sie. konsumsi hanya sedikit sedangkan panitia lainnya sibuk dengan urusan masing-masing, maka jadilah pagi itu sebagai permulaan saya sebagai sie. medis merangkap sie. konsumsi. Goreng tempe (walau sampe dikira tempe bacem saking hitamnya), goreng pisang penyet (walau matengnya ga merata), ngupas-ngupas bawang, dll deh. Yah, walaupun hanya mengerjakan yang ringan-ringan, tapi saya merasa telah berbuat sesuatu untuk konsumsi di Halimun kemarin. Lagipula, peka terhadap rasa lapar adalah salah satu dari empat sifat yang dicintai surga.
Berbeda dengan Pelican tahum sebelumnya di mana banyak ‘bapak-bapak panitia’ turut terjun di dapur dengan menjadi voluntir bagi sie. konsumsi (ikhwan-ikhwan biologi 2007 jago masak euy!), tahun ini hanya tiga-empat orang bapak panitia yang mau bersentuhan dengan pisau, sayur-sayuran, dkk. Dan cuma satu orang ikhwan panitia seangkatan saya yang tangannya begitu lihai memotong-motong wortel, bawang, dkk. Melihatnya, saya cuma bisa berkomentar dalam hati: glek! Saya kalah telak!
Mentor magabut
Aha, ini yang agak saya sesalkan. Proses transfer ilmu di acara Pelican kali ini ternyata tidak berjalan lancar. Saya dan lima orang lainnya ditunjuk untuk menjadi mentor ngalap (baca: pengamatan lapangan) untuk famili Orchidaceae dan Begoniaceae. Pengamatan lapangan dilakukan dengan menelusuri loop trail menuju Stasiun Penelitian Cikaniki, dan mengidentifikasi tumbuhan yang dapat kami temui di sana, dengan kedua famili di atas sebagai fokus utama kelompok. Dan peserta kelompok 1 yang jadi mentee kami hanya berjumlah lima orang. Jadi bisa dibayangkan, mentor ngalap lebih banyak daripada peserta ngalapnya. Keroyokan. Dan tiga orang mentor senior yang pengetahuan tentang anggreknya jauh lebih ter-upgrade daripada saya membuat saya merasa jadi mentor magabut. Jadilah saya hanya menjelaskan sedikit tentang Begoniaceae, beserta sedikit info ciri khas dari famili-famili penghuni Halimun lainnya.
Di tengah perjalanan, dua ekor Owa Jawa (Hylobates moloch, also known as Javan Silvery Gibbon) yang sedang lompat dari pohon ke pohon menarik perhatian kami. Penglihatan kami terbantu dengan binokuler yang dibawa salah seorang mentor sehingga bisa melihat aktivitas Owa Jawa itu lebih jelas.
Sampai di Stasiun Penelitian Cikaniki, kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Curug Macan, sekitar 400 meter lagi. Tak terasa, 400 meter ditempuh dengan cepatnya, dan lelah hari itu terbayarkan dengan pemandangan air terjun, dan tentu acara makan siang yang dinanti-nanti. Oh ya, tak perlu khawatir, nama Curug Macan bukan berarti karena banyak macan. Sama sekali tak ada macan di sana. Setidaknya ketika kami singgah sore itu.
Cikudapaeh: What a Track!
Kata teman saya, paeh artinya mati. Jadi Cikudapaeh artinya sungai kuda mati. Seseram namanya, track menuju curug Cikudapaeh memang dahsyat, jauh lebih dahsyat daripada track sebelumnya yang cuma loop trail dari perkemahan Citalahab ke Pusat Penelitian Cikaniki, selain jaraknya yang lebih jauh, sekitar lima kilometer. Di perjalanan di hari ketiga kami, terpeleset (bahasanya: jackpot), merosot, merayap, mandi lumpur menjadi teman akrab seperjalanan. Ohya, kena pacet juga (tahu pacet kan ya? Itu lho, temennya lintah). Orang-orang yang biasa naik gunung pasti sudah mahfum, bahwa nge-track di gunung pasti rentan ‘ditempeli’ pacet. Yang terlihat sih biasanya di sekitar pergelangan kaki hingga betis. Tapi siapa tahu pacetnya berhasil menghisap darah kita di bagian lain tubuh kita. Karena banyak cerita juga bahwa ‘ketempelan’ pacet terkadang baru bisa kita sadari ketika sudah sampai di basecamp lagi, tepatnya di kamar mandi. Tepat sekali. Si pacet berhasil masuk ke dalam pakaian kita dan tahu-tahu pakaian kita sudah berdarah-darah, karena ternyata ia menghisap darah di bagian perut, punggung, atau bagian lainnya, dengan ukuran si pacet yang biasanya sudah lebih besar karena kekenyangan menghisap darah.
to be continued…