Latest Entries »

“fa idzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallaah..

ihrish ‘alaa maa yanfa’uk wasta’in billah..

Renovasi MII adalah amal yang sangat mulia yang harus dilandasi keiklashan hanya mengharap rodho Allah ‘Azza wa Jalla, dan harus berjalan diatas ilmu dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.. sebab sebuah amal tidak akan diterima hingga memenuhi 2 syarat: ikhlas dan sesuai dengan sunnah..

kawan-kawan, sungguh keberhasilan amal kita itu murni tergantung pada pertolongan dan idzin dari Allah ‘Azza wa Jalla.. sekeras apapun usaha kita, jika Allah tidak berkenan memberikan pertolongan dan idzin-Nya, sekali-kali tidak akan berhasil.. seluruh usaha yang kita lakukan dengan maksimal, itu semua semata-mata hanya dalam rangka mencari sebab turunya prtolongan Allah ‘Azza wa Jalla..

maka, jangan sampai, jangan sampai, dan sekali-kali jangan sampai usaha kita dalam merenovasi MII tercampur dengan hal-hal yang dapat merusak amal kita ini dan menghalangi pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla, baik berupa niat yang rusak, ataupun cara-cara yang menyimpang dari sunnah..

niat yang baik itu tidak cukup, tata cara dalam beramal pun harus baik, yaitu, harus sesuai dengan sunnah..

semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu memberikan taufiq kepada kita dan berkenan memberikan pertolongan kepada kita dalam merenovasi MII..”

Advertisements

laundry-delivery

mas laundry-delivery: “Assamu’alaykum, permisi mbak, mau ngambil laundry-an mukena..”

(seorang pengurus LDF menyerahkan seplastik besar mukena siap-cuci, sebut saja bunga) : “oo, iya mas sebentar, ini..”

(mengeluarkan alat timbangan digital portable seukuran genggaman tangan) M: “ditimbang ya mbak.. 4,9 kilo ya. terima kasih mbak..” (lalu pamit)

 

hari ini, di tempat ini (sekre lembaga da’wah fakultas), setahun yang lalu, mungkin saya juga sedang mengurusi urusan yang sama. bedanya, kami yang men-deliver bungkusan mukena-mukena itu ke tempat laundry-an, ngga dijemput. nanti di sana baru bungkusan mukena ditimbang dengan alat timbangan yang masih terbilang berukuran besar. dua hari kemudian, kami akan menjemput kembali mukena tersebut yang bisa dipastikan sudah dibungkus amat rapi lagi wangi. walaupun kesannya repot, tugas macam ini cukup jadi tantangan tersendiri yang ngga semua orang bisa punya kesempatan mengalami 🙂

makin berkembang teknologi dan zaman, makin termudahkan pula segala urusan. termasuk urusan rumah-tangga-musholla macam ini. dan lihatlah, timbangan pun sekarang sudah ada yang portable yang makin memudahkan sekaligus menggiatkan bisnis laundry yang ada saat ini. ini bukti bahwa teknologi selalu berhasil jadi solusi ummat, menjawab setiap kebutuhan.

dan jadi wondering, sejauh mana kita sudah mendayagunakan teknologi yang tersedia–minimal untuk diri sendiri, dan cakupan luasnya; untuk kemajuan ummat?

a bit nostalgia

aku, pendusta nikmat kah?

Mendustakan nikmat. seperti apa contohnya?

Merenung-renung..

Pada surat ke lima puluh lima dalam Al Qur’an itu, Allah sebut pertanyaannya berulang-ulang, tiga puluh satu kali. “fabiayyi aalaa-I rabbikumaa tukadzdzibaan?”, “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”, yang berarti pertanyaan itu adalah sesuatu yang teramat serius untuk kita perhatikan, untuk kita renungi, untuk kita jawab.

Selama ini, entah, seperti merasa aman dari ‘tuduhan’ mendustakan nikmat itu. Apa sebab? Karena aku sholat, karena aku mengucap hamdalah tiap mendapat nikmat. yang demikian sudah bisa disebut tak mendusta nikmat?

Mencoba flashback, dan menemukan banyak potongan puzzle hidup dimana ada nikmat Allah disana yang tak kumaksimalkan sebagaimana mestinya.

  1. Dibeliin motor, tapi masih males2an untuk nganter anggota keluarga yang lagi butuh dianter. Atau males2an untuk dateng ontime acara2 undangan. Atau merasa berat untuk berangkat saat ada dua agenda yang cukup berjauhan tempat..
  2. Beberapa minggu lalu, seharusnya presentasi suatu mata kuliah wajib hari itu, tapi persiapan minim dan ternyata pak dosen tak masuk. Otomatis presentasi diundur pekan depannya, dan waktu sepekan itu tak kugunakan untuk mempersiapkan presentasi terbaik..
  3. Cuma butuh lima ratus perak setiap harinya untuk dapet gratis sms ke semua operator. Jatahnya 10.000 sms. Tapi masih jarang sekali sms taushiyahku mampir di inbox teman2 sejawat. Yang ada mungkin saja hanya jarkom2 acara, atau permintaan tolong. (*merasa kalo sms temen jauh cuma kalo butuh bantuan aja). Nyambung silaturrahim walopun via sms sama temen atau senior yang udah jarang ketemu? J.a.r.a.n.g banget.
  4. Udah diberi oleh Allah banyak ilmu tentang Al Qur’an, tafsirnyakah, keutamaan menghafalnyakah, tapi masih aja angot2an menghafal..
  5. udah Allah kasih langsung sesuatu yang bernama hikmah di setiap hari yang aku jalani, sebagai pelajaran hidup yang tak boleh terabai. Tapi nyatanya aku masih mengulangi kesalahan yang sama..
  6. dan udah Allah kasih waktu 24 jam dalam sehari, setiap kebutuhan sudah ada jatah waktunya sendiri, namun keluangan waktu itu tak aku pergunakan dengan baik, walau untuk mendokumentasikan semua hikmah dari Allah itu melalui tulisan (baca: m.e.n.u.l.i.s!) yang jika kurenungi dan kupalikasikan benar-benar, maka pahalanya lebih tinggi daripada tahajjud setahun.

Dan maasih banyak lagi.

Jika yang demikian ternyata adalah sesuatu yang mendustakan nikmat,

Maka akukah si pendusta nikmat itu?

Allahummaghfirlii.

Dalam rangka meluruskan benang yang semakin kusut.

Senin lalu, paginya saya mendapat kabar duka dari seorang teman, Upi kimia 2010. Ibunya meninggal dunia setelah sekian hari dirawat di ICU karena jatuh di kamar mandi. Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun..

Siangnya setelah shalat zhuhur di musholla kampus, sebut saja Musholla ‘Izzatul Islam, sang imam mengajak semua jamaah shalatnya untuk mendirikan shalat ghaib untuk almarhum ibunda Upi. Dan saya tercekat. Sudah lama sekali saya tak mendirikan shalat jenazah, atau shalat ghaib. Bahkan saya lupa kapan terakhir saya menshalati mayit. Dan, bisa ditebak, saya hampir lupa seluruh doa shalat ghaib untuk takbir ketiga dan keempat!

Astaghfirullah. Sempat agak ragu apakah akan ikut shalat atau tidak, mengingat hal paling krusial tersebut saya lupakan. Namun akhirnya saya ikut shalat ghaib juga, dan sepertinya hampir seluruh jamaah shalat zhuhur juga ikut melakukan shalat ghaib.

Saya tidak tahu apakah benar-benar diantara pendiri shalat ghaib itu, hanya saya saja yang tak hafal doa-doanya. Yang jelas hari itu jadi pelajaran sangat berharga buat saya, bahwa tak boleh sama sekali melupakan doa shalat ghaib. Siapa saja bisa dipanggil Allah kapan saja, maka saya harus bersiap ketika ada kabar duka dari orang-orang terdekat saya. Bersiap dengan doa-doa terbaik yang dipanjatkan terakhir kali di hadapan sang mayit.

 

“kullu nafsin dzaa’iqotul mauut…” (Al Qur’anul Karim)

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Pada setapak kehidupan ketika kau bersedih
Senandung cerita lirih hati yang tak bertepi
Pada dimensi sajak hari yang terlalu dingin
Ketika kesepian menjawab renta malam tanpa angin
Semilir hidup dan sebuah kalimat mungkin
Pada harapan ketika jiwa harus tetap berdiri
Membelai hidup yang tak memerlukan terima kasih
Maka, maafkanlah…
Hadapi hidup ini apa adanya
Hidupi hidup dengan iman dan kesabaran
Enyahkan kejenuhan hidupmu buanglah rasa cemas
Bersyukurlah seluas langit dan bumi
Tinggalkan kekosongan harimu dalam rencana esok pada kehidupan di hari yang lain
Tanyakan pada dirimu akan kesantunan yang selalu terabaikan

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Peliharalah, peliharalah senyummu agar tak menjadi palsu
Menikmati kesedihan dan menjadi tangguh
Menakhlukkan pedih menjadi peluru
Bernafas seperti batu, menjadi singa dalam kejayaan matahari
Menjaga malam bersama tamaknya ibadah para rahib rabbani
Mensyukuri semesta barsama para penjaga purnama
Menikahkan jiwa bersama dakwah
Mencumbu cinta didalam jihad
Bekali perjalanan bersama Allah dan RasulNya
Membalut hati tanpa retorika
Siapkah kau jika hari menjadi pedang dan kesempatan kedua tak lagi memilki sarang
Bertarung manjaga cinta dalam kesepian
Membunuh waktu dalam harapan
Karena lahir adalah untuk melihat kenyataan

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

Pada lautan airmata kita belajar
Pada kepedihan yang mendidik kita tuk tak gentar
Bertahan menjadi akar, bersemi pada keteguhan yang mekar
Celakalah para humazah dan lumazah
Neraka serapah jelantah
Kebutuhan jiwa di alam barzakh
Menebar jejak misteri syafaat dan kesolehan
Pada saat setiap telusuri sahara jiwa dan keabadian
Didekat jasad syahid hamzah
Temukanlah ibroh bukit uhud dari profil mini musoiram
Begitulah sejarah menuntut kita tuk bangkit kembali
Meniti tangga hari walau berulang terjatuh bangkit dan kembali terjatuh
Berdiri dan optimislah!
Karena kita adalah pewaris Rasulullah diajarkan bersabar diantara lapisan batu penduduk Thaif

Dari atas satu tanah tempat kita berpijak
Teruslah bergerak, berhentilah mengeluh…

 

this is actually a song lyric, sang by Thufail Alghifari, a rapper-munsyid.

i won’t be bored to read this for many time. what an inspiring one!

Gara-gara dikasih link ke blognya Faiz oleh kak Ifah,
Pagi ini jadi menelusur halaman-halaman maya di ‘Taman Hati Abdurahman Faiz’ begitu sampai rumah dari mabit di Masjid Attaqwa Pasming semalam.

Dan, saya jadi bawa pulang banyaaak sekali oleh-oleh dari sana.
Faiz yang masih sd itu, memberi banyak pencerahan untuk hati,
Faiz yang masih sd itu, begitu polos menuliskan tiap detil kejadian hidup yang dialaminya (baca deh yang judulnya ‘Sorry Dorry Strawberry…’!),
Faiz yang masih sd itu, begitu penuh cinta untuk sesamanya, juga sangat bersemangat menyebarkan kebaikan dan cinta itu kepada orang-orang di sekelilingnya,
dan Faiz yang masih sd itu, benar-benar menulis dari hatinya…
wajahnya sepolos fitrah, hatinya sejernih embun, tulisannya mengangkasa…

dan dari tulisan-tulisannya, saya jadi tahu, betapa kedua orangtuanya sukses menanamkan benih-benih kecintaan untuk sesama, mengajarkan kelembutan hati yang tiada terkira, dan menjadi teladan yang sempurna bagi buah hatinya. Banyak tulisan Faiz yang bercerita tentang ayah-bundanya. Tentang kesyukurannya yang tiada habis karena dikaruniai orangtua yang baik, tentang kebanggaanya karena keduanya selalu menebar kebaikan di mana saja pada siapa saja…

buat Faiz, terima kasih karena telah mengajarkan arti kehidupan secara sederhana dan begitu manis buat kakak yang satu ini. Jujur, merasa kalah telak dengan adik kecil yang begitu shalih dan dekat pada Allah melalui kedekatannya dengan ‘teman akrab’-nya yang kekurangan. Salah satu tulisannya yang sedang membahas jalan-jalan,

Baru ketika pulang, di dalam mobil aku merasakan sesuatu yang lain. Tiba-tiba aku kok jadi sedih ya. Aku memikirkan mereka yang bekerja menjadi setan-setanan itu. Kasihan sekali. Mereka harus meringkuk di dalam terali, pakai pakaian dan rias wajah yang seram. Mereka harus terus menakut-nakuti pengunjung agar “rumah setan” itu terlihat seru. Mereka bekerja dari mulai persiapan di pagi hari, sampai lewat pukul sepuluh malam. Berapa ya honornya sehari? Dan kalau PRJ ini sudah selesai, apakah “setan-setan” yang baik hati itu masih bisa bekerja? Di mana?
Aku masih ingat. Saat keluar dari “rumah setan”, ada anak balita, kurus tidak pakai sandal. Dia melihat kami. Lalu dia berlari ke arah seorang perempuan.
“Buu, mana Bapak?” cadel.
“Bapak lo di sono jadi setan. Belum selesai!”
Di dalam mobil, di sepanjang jalan pulang aku terdiam. Ada sesuatu yang bergayut di hatiku. Berat sekali.
Ah, keringat ayahmu yang mengalir hari ini, adik kecil…,
apakah cukup untuk membeli susu esok pagi?

Begitulah, hingga pagi-pagi begini, sudah banyak catatan hati, nasehat bagi diri sendiri yang batinnya sudah terasa tumpul sekali dalam melihat kehidupan lain di luar sana. Anak-anak jalanan yang mengemis, teman sekolah yang kekurangan, kerabat jauh yang sedang sakit, hingga pemimpin yang harusnya bisa lebih mengayomi rakyatnya..

Ah, pagi ini saya dibuat tersadar oleh anak yang masih berseragam merah-putih!

Sampaikan salamku…

Kalau suatu saat kau bepergian

ke tempat di mana hijau tetumbuhan terhampar,

angin sejuk berhembus,

dan bintang gemintang tertabur,

maka sampaikan selalu salamku pada mereka

salam penghormatan, berkah, shalawat, dan seluruh kebaikan

untuk Rabb semesta

yang telah begitu sempurna mencipta

serta untuk Sang Guru dari para guru

yang telah begitu indah mengajarkan

betapa berharganya kehidupan…

2 Mei 2010, 11.50

Hidup ini, bila tanpa ‘terjatuh’, takkan terasa asyiknya.

Hidup sejatinya seperti gunung. Dan kehidupan adalah proses pendakian seorang anak manusia di gunung tersebut. Makin jauh mendaki ke atas, makin menanjak terjal jalannya, makin sulit track-nya. Dan seringkali dalam pendakian itu, kita terpeleset menginjak bebatuan licin, atau ranting yang patah, lalu terjatuh. Aww! Pasti sakit sekali rasanya. Tetapi begitulah, kita segera bangkit kembali, kemudian terus menanjak dan menanjak.

Dari jatuhnya kita yang pertama, kita belajar sesuatu; bahwa kita harus lebih berhati-hati pada bebatuan yang ditumbuhi lumut. Mata kita harus lebih awas. Kaki kita harus memijak kuat. Agar di tapak-tapak kaki selanjutnya, langkah kita bisa lebih lancar lagi.

Berapa kali, kira-kira, kita mengalami kegagalan dalam hidup? Saya sendiri, saking banyaknya, tak bisa lagi menghitungi ‘kejatuhan-kejatuhan’ itu. Sudah terlalu banyak. Dalam setiap aspek kehidupan, selalu ada fase gagalnya. Dan itu menyakitkan. Sungguh sangat-sangat menyakitkan :-(. Rasanya ingin ditelan bumi saja, atau kata orang2 yang sering berinteraksi dengan komputer, kalo bisa, rasanya mau klik ‘undo’ aja.

Tapi tahukah, dua potensi anak manusia ketika ia tengah dihadapkan dengan kegagalan: ia kecewa, namun setelah itu ia berputus asa, atau ia kecewa, tetapi kemudian ia bangkit kembali dari keterjatuhannya.

Dan saya yang sudah teramat sering terjatuh ini, tentu lebih memilih yang kedua. Sebab kita semua pasti tahu, kecewa (lalu berputus asa) berlama-lama hanya akan membuang waktu, mengikis kesempatan-kesempatan berbuat baik yang sebenarnya lebih besar. Kita tahu, bahwa masih sangat panjang track yang harus kita lalui agar sampai di puncak gunung ini. Kita pun tahu, bahwa di sana, di tempat yang lebih tinggi dari tempat kita terjatuh sekarang, pasti akan terlihat pemandangan yang lebih indah. Oleh karena itu, tak kita hiraukan rasa sakit tadi, kemudian kita berkata ringan sambil tersenyum, “tidak apa-apa. Mari kita lanjutkan perjalanan!”

Dan tentu kita tahu, akan kita temui lagi nantinya halang-rintang yang mungkin menghadang perjalanan. Akan kita rasakan angin yang semakin kencang menerpa tubuh ringkih kita, yang membuat kita sulit bernapas. Tetapi lihat, kita telah bersiap untuk itu semua. Berbekal evaluasi, kita makin siap menanjak. Kaki kita makin kuat menapak. Mata kita makin awas. Tekad kita makin kuat. Dan kita bersama berkata, “Mari lanjutkan perjalanan!”

Untuk semua pendaki gunung kehidupan: Selamat melanjutkan perjalanan!

Aku Ingin Mendaki

Aku ingin mendaki

Tak mengapa menanjak

Biarkan hutan lebat, dingin, licin kulewati

Biarkan hujan membasahi

Aku ingin mendaki

Agar menyaksikan kesempurnaan hidup dan keindahan kebenaran

Aku ingin mendaki untuk mengekang keangkuhan diri

Sebab dengan menyaksikan kedaulatan pencipta, aku akan menemukan kerapuhan dan keroposnya seorang diri ini

Aku ingin mendaki

Tak mengapa letih dan badai berbaur untuk memadamkan semangat

Aku ingin mendaki

Agar memahami bahwa setiap helai daun yang jatuh,

setangkai edelweis di 3000 dpl, dan seorang hamba di rimba hutan

tak akan pernah lepas dari awas dan cinta-Mu

meski ada pula abdiMu yang mencoba melampaui

Aku ingin mendaki

Agar mengenal betapa sukarnya

berjalan di tengah hutan meski dengan kompas

sehingga peluang tersesat dapat ditemui

dan semakin besar peluang itu

jika badai atau kabut datangmenghalangi pandang

sehingga pecinta alam yang berkali-kali diklat-pun dapat tersesat

dan pada akhirnya tim SAR akan memahaminya sebagai kelalaian

kemudian memaafkan

Aku ingin mendaki untuk menempa diri

Untuk mengenal kehidupan lain, menerima jiwa lain, dan yang pasti memahami orang lain

Sehingga pada akhirnya aku memiliki keberanian untuk memaafkan

Dan mampu berkata seperti orang Alim

“Dia benar, saya keliru”

written by Bhakti Eko Nugroho

“Assalamu’alaikum!” pekik sang kakak dan sang adik kompak pada penghuni rumah. Penghuni rumah menyahut salam. Keduanya menuju pagar rumah, membukanya, kemudian keluar.

Pagi itu tepat jam tujuh. Embun sudah pergi dari dedaunan. Matahari kian meninggi saja di horizon sebelah timur sana. Langit kian terang ditingkahi arakan awan rendah kumulus.

“Balapan lari ya, sampe ujung sana! Siap??” sang kakak bersiap mengambil kuda-kuda.

“Ayo!” si adik yang berseragam merah-putih (masih kelas satu sd) tak mau kalah bersiap.

“satu-dua-tiigaa!” keduanya melesat. Berlarian. Empat detik berlalu, dan si adik mempimpin di posisi depan. Sang kakak yang terlihat kerepotan membawa sebuah tas jinjing besar susah-payah membalap si adik laki-lakinya, berusaha mengambil langkah lebih besar dengan menarik ke atas roknya sebatas betis. Aman, karena selalu dobel celana longgar, pikirnya.

Usahanya tak begitu membuahkan hasil. Si adik masih memimpin di depan. Malah sang kakak makin jauh tertinggal di belakang.

“curang, curang!” teriak sang kakak kepada si adik. Padahal apanya yang curang??

Tubuh sang kakak sudah jauh lebih tinggi. Tentu, karena rentang usia mereka 12 tahun. Tapi lihat saja nanti, beberapa tahun lagi tinggi badan si adik akan menyusul cepat. Dan mungkin si kakak akan kembali jadi anggota keluarga paling pendek di rumah.

Keduanya tertawa-tawa. Sambil ngos-ngosan, tentu. Dan mereka sampai di gerbang jalan. Perlombaan singkat pagi itu selesai, dengan si adik yang jadi pemenang. Keluar gerbang jalan, kemudian menyetop angkot yang cepat datang. Seperti biasa, kakak-beradik itu duduk di samping pak kusir, alias pak supir. Agak sempit memang, tapi toh kursi berkapasitas satu orang itu muat saja untuk mereka berdua.

“udah baca doa blom?” Tanya sang kakak.

“em.. apa ya doanya? Emm.. lupa..”

“Halah, kebiasaan. Udah mau setahun sd kok masih lupa-lupa terus?”

“Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaahii…” sang kakak membimbing,

“laa hawla walaa quwwata illaa billaah…” sambung si adik lancar.

Angkot itu melaju cepat, meninggalkan asap tipis dari knalpot belakang. Mengantar penumpangnya ke tujuan masing-masing. Sang kakak ke kampus, si adik ke sekolah. Angin berhembus pelan, bersahabat. Seolah mengantar doa-doa dari segenap penjuru, dari makhluk nampak maupun tak nampak: “mudahkan jalan keduanya menuju surga…”

***

Just.refreshing

ketika teman dan adik2 tengah bergulat dengan SIMAK UI